Beranda Rabu, 7 Oktober 2026

!online

Pendidikan Negatif

Kapan Kenakalan Anak Disebut Melewati Batas? Ini Penjelasan Psikolog

Rabu, 7 Oktober 2026, 16:13 WIB Sumber: Republika Dibaca 8 kali
Ukuran:

Psikolog Bernadette Cindy menjelaskan bahwa kenakalan anak yang masih wajar adalah perilaku menentang aturan atau impulsif yang terjadi sesekali, sedangkan kenakalan yang melewati batas terjadi ketika anak melakukan kekerasan yang disengaja, berulang, dan menimbulkan ketakutan atau cedera pada korban, sebagaimana terlihat dalam kasus perundungan yang dialami siswa SDN 1 Kebondalem, Pemalang, dan siswa SMA di Garut. Orang tua dan guru perlu segera menghentikan perilaku kekerasan tersebut, melindungi korban, serta memberikan konsekuensi yang konsisten kepada anak pelaku dengan prinsip accountability without humiliation, yaitu tegas terhadap perilaku tetapi tidak melabeli anak sebagai anak jahat.

Poin-Poin Utama

  • Kasus kekerasan melibatkan anak sebagai korban dan pelaku menjadi perbincangan publik.
  • Aqib, siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Pemalang, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan dan kekerasan oleh kakak kelasnya.
  • Kasus serupa terjadi di Kabupaten Garut, seorang siswa SMA mengalami cedera mata akibat peluru airsoft gun.
  • Psikolog Bernadette Cindy mengaku prihatin dengan serentetan kasus kekerasan yang melibatkan anak.
  • Kemampuan mengendalikan impuls, mengatur emosi, memahami konsekuensi, dan berempati pada anak masih berkembang.
  • Anak atau remaja mungkin sesekali melakukan perilaku menentang aturan atau impulsif.
  • Kekerasan yang disengaja, berulang, dan menimbulkan ketakutan atau cedera bukan kenakalan biasa.
  • Orang tua dan guru perlu segera menghentikan perilaku kenakalan yang melewati batas.
  • Orang tua dan guru perlu memastikan korban kekerasan terlindungi.
  • Anak pelaku kekerasan perlu mendapatkan konsekuensi yang konsisten.
  • Orang tua dan guru perlu mencari tahu faktor yang mendasari perilaku kenakalan anak.
  • Melibatkan bantuan profesional seperti psikolog, konselor, atau psikiater bisa dilakukan.
  • Konsekuensi harus disesuaikan dengan usia dan tingkat pelanggaran anak.
  • Prinsip accountability without humiliation diterapkan, yaitu tegas terhadap perilaku tetapi tidak melabeli anak sebagai anak jahat.
  • Orang dewasa perlu menunjukkan bahwa konflik diselesaikan dengan batasan dan konsekuensi tegas, bukan dengan kekerasan.
Tagar Terkait
#sekolah#perundungan#kekerasan anak#orang tua#psikolog anak
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.

Buka Sumber di Republika

Warta Terkini Lainnya