Beranda Jumat, 9 Oktober 2026

!online

Sastra Positif

Percakapan Petani Kopi

Jumat, 9 Oktober 2026, 16:12 WIB Sumber: Kompas Dibaca 10 kali
Ukuran:

temurun untuk membiayai pendidikan anak dan kebutuhan keluarga lainnya. Kopi menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat setempat dengan prinsip tidak bergantung pada satu jenis tanaman saja, melainkan menanam cabai, tomat, dan kayu manis di antara tanaman kopi. Pada akhir cerita, Asman menghadapi konflik ketika beberapa orang berseragam datang mengklaim bahwa lahannya termasuk dalam Hak Guna Usaha milik PT Panas Bumi, yang ia tolak dengan tegas karena meyakini lahan tersebut adalah warisan nenek moyangnya.

Poin-Poin Utama

  • Pekonina merupakan daerah di kaki Bukit Barisan penghasil kopi arabika.
  • Panen kopi membutuhkan waktu 6-8 bulan, lebih lama dari padi yang hanya 3-4 bulan.
  • Petani menanam cabai, tomat, dan bawang merah di antara pokok kopi.
  • Pohon kayu manis digunakan sebagai pembatas lahan di lereng Bukit Barisan.
  • Petani meyakini tanah tidak menolak ditanami namun marah jika digunduli.
  • PT Panas Bumi mengklaim lahan yang digarap Asman termasuk dalam HGU milik perusahaan.
  • Asman menolak klaim PT Panas Bumi atas lahan yang digarapnya sejak turunan.
  • Pendapatan petani kopi tidak stabil, digambarkan seperti rezeki harimau.
  • Hasil panen kopi digunakan untuk biaya kuliah anak dan perbaikan rumah.
  • Lahan kopi di Pekonina menjadi mata pencaharian sejak nenek moyang.
  • Cuaca sejuk di puncak Pekonina menjadi lingkungan nyaman bagi tanaman.
  • Nelayan di Pekonina menggunakan berbagai jenis seragam saat berkomunikasi.
Tagar Terkait
#hgu#cerpen#kompas#konflik lahan#petani kopi#pekonina#rio rozalmi
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.

Buka Sumber di Kompas

Warta Terkini Lainnya