Beranda Sabtu, 26 September 2026

!online

Nasional Netral

Pakar Unand Dorong Peningkatan Kompetensi Pemandu Wisata Gunung Api

Sabtu, 26 September 2026, 10:07 WIB Sumber: Media Indonesia
Ukuran:

Pakar pariwisata Universitas Andalas Sari Lenggogeni mendorong perlakuan pemandu wisata gunung api tidak sekadar sebagai pemandu, melainkan sebagai komunikator risiko dan pemberi pertolongan pertama dengan kompetensi teknis vulkanologi dan kemampuan psikologis dalam menangani wisatawan saat darurat.Pemerintah perlu menetapkan sertifikasi khusus bagi pemandu gunung api yang disertai pelatihan penyegaran dan simulasi periodik bersama PVMBG, BPBD, dan Basarnas.Strategi mitigasi harus dimulai sejak tahap prakejadian atau prodromal, mencakup kesiapsiagaan, implementasi, hingga evaluasi sebagai sistem berkelanjutan di setiap destinasi wisata gunung api Indonesia.

Poin-Poin Utama

  • Sari Lenggogeni, pakar pariwisata Unand, menekankan perlunya peningkatan kompetensi spesifik bagi pemandu wisata gunung api.
  • Pendampingan dari pemerintah diperlukan agar pemandu memiliki standar keselamatan yang mumpuni.
  • Sari mendukung program Kemenpar yang telah memasukkan unsur keselamatan dalam pelatihan pemandu.
  • Untuk destinasi gunung api, kompetensi yang dibutuhkan jauh lebih mendalam dan teknis dibandingkan pemandu wisata umumnya.
  • Pemandu gunung api perlu dipandang sebagai komunikator risiko dan pemberi pertolongan pertama.
  • Pemandu gunung api harus memiliki kemampuan teknis vulkanologi dan kemampuan psikologis dalam menangani wisatawan saat darurat.
  • Pemandu harus mampu mencegah wisatawan terjebak dalam "panik protektif" saat situasi krisis.
  • Indonesia berada di jalur cincin api sehingga berpeluang menjadi model dunia dalam pengelolaan pariwisata gunung berapi yang aman.
  • Gunung api bukan sekadar aset wisata, melainkan laboratorium hidup untuk pendidikan bencana.
  • Tren geowisata menunjukkan wisatawan semakin mencari pengalaman autentik seperti trekking kawah.
  • Semakin unik gunung api sebagai atraksi wisata, semakin besar kebutuhan pengelolaan risikonya.
  • Sari mengusulkan sertifikasi khusus bagi pemandu gunung api disertai pelatihan penyegaran secara berkala.
  • Simulasi periodik harus melibatkan PVMBG, BPBD, Basarnas, dan pengelola destinasi.
  • Mitigasi harus dimulai sejak tahap prakejadian atau prodromal.
  • Strategi manajemen krisis harus menjadi sistem berkelanjutan di setiap destinasi wisata gunung api Indonesia.
Tagar Terkait
#mitigasi bencana#gunung api#vulkanologi#pemandu wisata#kompetensi#keselamatan wisata
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.

Buka Sumber di Media Indonesia

Warta Terkini Lainnya