Jelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kepala Burung Papua
Program Jelajah Kemolekan Sorong Selatan merupakan kolaborasi antara Konservasi Indonesia, National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa untuk mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat di tiga kampung, yaitu Klaogin, Konda, dan Bariat di wilayah Kepala Burung Papua. Sorong Selatan memiliki kekayaan keanekaragaman hayati dengan 416 spesies tumbuhan dan 372 spesies satwa dalam ekosistem Hutan Rawa Gambut Tropis, di mana masyarakat adat berperan sebagai penjaga utama benteng hijau tersebut. Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat menegaskan bahwa pariwisata harus menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat setempat, bukan sebaliknya, serta mengingatkan agar wisatawan datang sebagai "pejalan" yang mau memahami dan menghormati kearifan lokal.
Poin-Poin Utama
- Dua mama asal Sorong Selatan bernama Lidia Sawor dan Orpa Sawen mendemonstrasikan pembuatan papeda dari sagu.
- Program bertajuk Jelajah Kemolekan Sorong Selatan merupakan hasil kolaborasi antara Konservasi Indonesia, National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa.
- Tiga kampung yang merintis ekowisata berbasis masyarakat adalah Klaogin, Konda, dan Bariat.
- Sorong Selatan memiliki ekosistem utama berupa Hutan Rawa Gambut Tropis.
- Kawasan ini mencatat 416 spesies tumbuhan dan 372 spesies satwa.
- Senior Vice President Konservasi Indonesia adalah Meizani Irmadhiany.
- Editor in Chief National Geographic Indonesia adalah Didi Kaspi Kasim.
- CEO Legenda Khatulistiwa adalah Narendra Makes.
- Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya adalah Irman Murafer.
- Kepala Kampung Klaogin adalah Martinus Sawen.
- Acara berlangsung pada tanggal 1 hingga 4 Oktober 2026.
- Agenda kegiatan meliputi Pameran Foto, Dialog Budaya, Demonstrasi Gastronomi, dan Pertunjukan Seni.
- Demonstrasi Gastronomi mengenalkan papeda dan olahan sagu oleh mama-mama Papua.
- Dialog Budaya membahas kearifan lokal dalam merawat hutan dan tradisi pangan.
- Pariwisata di Sorong Selatan dirancang agar warga menjadi pelaku, bukan penonton di tanah sendiri.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.