Saat Pertandingan Bela Diri Digelar Tanpa Melukai Lawan
Asian Games menampilkan cabang taekwondo virtual di mana atlet menggunakan perangkat realitas virtual dan sensor gerak untuk menyerang dan bertahan tanpa melukai lawan secara fisik. Perbedaan utama dari taekwondo tradisional adalah kategori campuran tanpa pembedaan jender dan kelas berat badan, yang dinilai memungkinkan lebih banyak orang berpartisipasi tetapi berpotensi memberikan keuntungan kekuatan fisik bagi pria. Taekwondo, seni bela diri yang telah ada lebih dari 2.000 tahun, kini mulai merambah dunia virtual sebagai langkah memasuki masa depan teknologi.
Poin-Poin Utama
- Alisher Asymbek Uulu dari Kirgistan bertanding taekwondo virtual melawan Darren Yap Zong Han dari Singapura.
- Pertandingan taekwondo virtual berlangsung dalam acara Asian Games yang diselenggarakan di Jepang.
- Perangkat realitas virtual terpasang di kepala atlet menggunakan tiga tali karet.
- Empat sensor gerak terpasang pada kedua kaki atlet, masing-masing dua sensor di atas dan bawah lutut.
- Setiap ronde dalam taekwondo virtual berlangsung selama 60 detik.
- Pertandingan terdiri atas tiga ronde terbaik.
- Atlet saling menyerang dan bertahan dengan menendang avatar lawan secara virtual.
- Indikator kesehatan lawan berkurang secara terkomputerisasi ketika serangan mengenai target.
- Pria dan wanita berkompetisi dalam kategori campuran pada taekwondo virtual.
- Taekwondo virtual tidak menggunakan kelas berat badan.
- Darren Yap Zong Han kalah di semifinal dari atlet perempuan Vietnam bernama Chau Ngoc Tuyet Sang.
- Chau Ngoc Tuyet Sang meraih medali perak dalam kompetisi taekwondo virtual.
- Chau Ngoc Tuyet Sang berusia 21 tahun dan juga berkompetisi dalam taekwondo tradisional.
- Taekwondo menggunakan teknologi realitas virtual untuk memungkinkan bertarung tanpa melukai lawan secara fisik.
- Taekwondo merupakan seni bela diri yang berasal dari Korea dan sudah ada sejak lebih dari 2.000 tahun.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.