620 Anak Terpapar Ekstremisme Digital sepanjang 2026
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme mencatat 620 anak usia 11 hingga 18 tahun di 34 provinsi terpapar ideologi kekerasan melalui ekosistem digital sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026. BNPT menggandeng 13 perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menjadikan kampus sebagai ruang dialog dan pengembangan berpikir kritis guna menangkal pengaruh radikalisme pada generasi muda. Kolaborasi ini didukung oleh pendekatan mikroekologi anak yang melibatkan lingkungan terdekat seperti orang tua, sekolah, dan masyarakat sekitar.
Poin-Poin Utama
- BNPT mengungkapkan pergeseran pola paparan ekstremisme pada anak dan remaja melalui ekosistem digital.
- Sebanyak 620 anak usia 11 hingga 18 tahun di 34 provinsi teridentifikasi terpapar ideologi kekerasan di ruang siber.
- Data tercatat pada periode Januari hingga Agustus 2026.
- Paparan ditemukan di berbagai forum dan komunitas digital.
- Komunitas kejahatan nyata bukan jaringan terorisme.
- BNPT menekankan kewaspadaan terhadap perubahan perilaku anak yang menormalisasi kekerasan.
- Pendekatan rehabilitasi yang digunakan adalah pendekatan mikroekologi anak.
- Pendekatan mikroekologi melibatkan orang tua, sekolah, dan masyarakat sekitar.
- BNPT resmi menggandeng 13 perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
- Kolaborasi bertujuan menjadikan kampus sebagai ruang dialog dan pengembangan berpikir kritis.
- Eddy Hartono menegaskan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam pencegahan.
- Perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan generasi muda.
- Lilik Andi Aryanto menyambut baik kerja sama antara BNPT dan perguruan tinggi.
- Penguatan karakter dan nalar kritis menjadi kunci menghadapi pengaruh negatif di lingkungan digital.
- Langkah ini diharapkan memastikan intervensi dilakukan sedini mungkin sebelum paparan berkembang menjadi kekerasan nyata.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.