Beranda Jumat, 9 Oktober 2026

!online

Kesehatan Netral

Pentingnya Inklusivitas bagi Penyandang ADHD

Jumat, 9 Oktober 2026, 20:05 WIB Sumber: Kompas Dibaca 10 kali
Ukuran:

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan berkomitmen menyediakan ruang inklusif bagi penyandang disabilitas neurodivergent ADHD dengan berbagai program layanan kesehatan jiwa, termasuk program DDTKA untuk deteksi dini. Namun, layanan DDTKA masih memiliki kekurangan akibat tenaga kesehatan yang luput prosedur dan penolakan orang tua terhadap hasil diagnosis, sehingga banyak penyandang ADHD tidak terdeteksi dan tidak mendapat penanganan khusus. Kemenkes akan mengoordinasikan dengan Kementerian Pendidikan untuk menyesuaikan kapasitas kelas, metode pembelajaran, dan budaya sekolah, serta menekankan pentingnya dukungan keluarga, inklusivitas di pendidikan lanjutan, lingkungan sosial, dan dunia kerja bagi penyandang neurodivergen.

Poin-Poin Utama

  • Acara Temu Media Sehat Jiwaku berlangsung di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat (9/10/2026) dalam rangka Bulan Kesadaran ADHD.
  • Di Indonesia, sekitar 2,5 sampai 3 persen penyandang ADHD dewasa dan 0,12 persen remaja.
  • Kemenkes mengategorikan ADHD ke dalam disabilitas mental.
  • Kemenkes mengembangkan program DDTKA untuk mendeteksi dini tumbuh kembang anak sejak bayi melalui Puskesmas.
  • Survei WHO menyebutkan setengah dari gangguan jiwa dimulai sebelum berusia 14 tahun.
  • Kasus ADHD sering mengalami keterlambatan penemuan sehingga penyandang tidak dapat menemui potensi dirinya.
  • Tenaga kesehatan luput dalam prosedur DDTKA sehingga layanan pendeteksian ADHD belum optimal.
  • Orang tua penyandang ADHD ada yang menolak hasil diagnosis anak sehingga penanganannya tertunda.
  • Anak penyandang ADHD yang tidak terdeteksi sering bersekolah di sekolah umum tanpa penanganan khusus.
  • Kemenkes akan mengoordinasikan kebijakan inklusivitas dengan Kemendikdasmen.
  • Sekolah inklusi sudah ada tetapi jumlah guru pendamping bagi penyandang ADHD masih terbatas.
  • Pendidikan inklusif bagi penyandang ADHD memerlukan penyesuaian kapasitas kelas, sarana prasana, metode pembelajaran, asesmen akademik, dan budaya sekolah.
  • Sekitar 0,2 persen penyandang neurodivergen merasakan tekanan untuk menyembunyikan karakteristiknya.
  • Purboyo Solek adalah Konsultan Neurologi Anak dari Departemen Ilmu Kedokteran Anak Fakultas Kedokteran Unpad/RS Hasan Sadikin.
  • Maya (45), ibu dari penyandang ADHD, menyatakan dukungan keluarga dimulai dengan mendengarkan kebutuhan anak dan mengenali kekuatannya.
Tagar Terkait
#kemenkes#disabilitas#kesehatan jiwa#inklusivitas#adhd#neurodivergent#ddtka#sekolah inklusi
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.

Buka Sumber di Kompas

Warta Terkini Lainnya