Kemenkes Sebut 9 dari 10 Penderita Depresi di Indonesia belum Tersentuh Penanganan Medis
Kementerian Kesehatan memperingatkan bahwa hampir 9 dari 10 penderita depresi di Indonesia belum menerima penanganan medis, meskipun prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen. Hal ini diperparah oleh keterbatasan tenaga kesehatan jiwa, di mana rasio psikiater di Indonesia adalah 1 banding 180.000 penduduk, jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia sebesar 1 banding 30.000. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Kemenkes terus memperkuat upaya skrining melalui program Cek Kesehatan Gratis yang telah menjangkau lebih dari 71,8 juta jiwa, serta peluncuran empat buku saku skrining kesehatan jiwa bagi tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan primer.
Poin-Poin Utama
- Prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023.
- Prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia mencapai 4 per 1.000 anggota rumah tangga.
- Gangguan jiwa menjadi penyebab terbesar kedua Years Lived with Disability di Indonesia pada 2023.
- Depresi, gangguan kecemasan, dan skizofrenia merupakan kontributor terbesar gangguan jiwa di Indonesia.
- Hanya 12,7 persen penderita depresi di Indonesia yang menerima pengobatan.
- Hampir 9 dari 10 orang dengan depresi di Indonesia belum tersentuh penanganan medis.
- Indonesia hanya memiliki 1.495 psikiater dengan rasio satu psikiater untuk setiap 180.000 penduduk.
- Standar Organisasi Kesehatan Dunia menetapkan satu psikiater untuk setiap 30.000 penduduk.
- Dari 3.513 psikolog klinis yang terdata, hanya 213 orang yang bertugas di Puskesmas.
- Skrining kesehatan jiwa melalui program Kemenkes telah menjangkau lebih dari 71,8 juta jiwa.
- Sebanyak 1,2 persen sasaran skrining ditemukan memiliki dugaan gejala depresi.
- Sebanyak 0,9 persen sasaran skrining ditemukan memiliki gejala kecemasan.
- Kemenkes meluncurkan empat seri buku saku skrining kesehatan jiwa untuk tenaga kesehatan di Puskesmas.
- Buku saku skrining mencakup empat kelompok yaitu ibu hamil, anak dan remaja, dewasa, serta lansia.
- Jacques Dubochet, peraih Nobel Kimia 2017, merupakan sosok penyandang disleksia sebagai contoh keberhasilan.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.