Rupiah Dekati Rp 18.000 Per Dolar AS, Tertekan Harga Minyak dan Obligasi Global
Rupiah melemah mendekati Rp 18.000 per dolar AS dipengaruhi kenaikan harga minyak, imbal hasil obligasi AS yang meningkat, serta arus keluar dana dari aset portofolio negara berkembang. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen dan melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing serta pemberian insentif bagi instrumen swap dan DNDF lindung nilai kepada BI untuk menambah pasokan dolar AS di domestik.
Poin-Poin Utama
- Rupiah spot melemah Rp 3 atau 0,02 persen menjadi Rp 17.981 per dolar AS pada 29 September 2026.
- Rupiah sempat melemah ke posisi Rp 18.036 per dolar AS sebelum mempersempit pelemahan.
- Kurs rupiah Jisdor menguat Rp 33 atau 0,18 persen menjadi Rp 17.998 per dolar AS.
- Secara triwulanan berjalan, rupiah melemah 0,67 persen.
- Harga minyak naik di atas 108 dolar AS per barel.
- Imbal hasil obligas AS tenor 10 tahun meningkat ke 5,23 persen, level tertinggi sejak 2007.
- Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.
- Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen pada 23 September 2026.
- Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi arus keluar dana dari aset portofolio negara pasar berkembang.
- Ketidakpastian terkait pembukaan Selat Hormuz masih berlanjut.
- Kebutuhan valuta asing importir menjelang akhir triwulan III-2026 turut menekan rupiah.
- BI melakukan intervensi melalui transaksi NDF di pasar offshore dan transaksi spot serta DNDF di pasar domestik.
- BI memberikan pengurangan premi swap beli lindung nilai konvensional sebesar 15 persen untuk tenor 3 bulan.
- Pengurangan premi DNDF ditetapkan 25 persen untuk tenor 6 bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan.
- Insentif local currency transaction diperluas mencakup pendanaan luar negeri oleh perbankan dan investasi langsung asing.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.