Kekerasan Terjadi Berulang di Sekolah, Ada Apa?
Kekerasan di lingkungan pendidikan Indonesia terus berulang tanpa penanganan tuntas, dengan data FSGI mencatat 100 kasus sepanjang Januari-September 2026 yang menyerap 1.055 korban, didominasi kekerasan seksual sebesar 60 persen. Para ahli menegaskan bahwa perundungan dan kekerasan merupakan gejala dari ekosistem yang gagal menopang pertumbuhan anak, bukan sebab tunggal, sehingga sekolah kerap hanya menangani gejala secara administratif tanpa menyentuh akar persoalan dan kultur sekolah yang rusak.
Poin-Poin Utama
- UNESCO (2024) mencatat sekitar 1 miliar anak usia 2-17 tahun mengalami kekerasan tiap tahun.
- Secara global, satu dari tiga pelajar mengalami perundungan dalam sebulan terakhir.
- FSGI mencatat 100 kasus kekerasan di dunia pendidikan sepanjang Januari hingga September 2026.
- Sebanyak 45 dari 100 kasus FSGI terjadi dalam periode Juli hingga September 2026.
- Jumlah korban kekerasan di Indonesia yang tercatat FSGI mencapai 1.055 orang.
- Enam puluh persen dari seluruh kasus kekerasan didominasi kasus kekerasan seksual.
- Seorang siswa kelas 2 SD berinisial MHAQ (7) di SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah, meninggal setelah sembilan hari perawatan.
- MHAQ diduga dianiaya kakak kelasnya karena menolak dipalak.
- Kekerasan di sekolah tingkat dasar, menengah, atas, hingga perguruan tinggi terus berulang.
- Kekerasan pada anak juga berkembang luas hingga ke ranah digital.
- Tujuh anak terlibat sebagai pelaku dalam kasus perundungan siswi madrasah tsanawiyah di Garut, Jawa Barat.
- Pekerja sosial Nurul Eka Hidayati menyatakan kekerasan pada anak adalah cerminan ekologi yang sakit.
- Perundungan yang brutal merupakan gejala dari sistem yang gagal menopang pertumbuhan anak.
- Sekolah kerap menangani gejala kekerasan secara administratif tanpa pembenahan sistematis.
- Mekanisme pencegahan kekerasan di sekolah tidak berjalan kuat akibat pengawasan yang lemah.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.