Trump Janji Tak Serang Iran Sebelum Pemilu, Armada AS Tetap Menuju Timur Tengah
Trump memastikan Amerika Serikat tidak melancarkan serangan militer baru terhadap Iran sebelum pemilihan umum paruh waktu pada 3 November 2026, meskipun sebelumnya muncul laporan bahwa Gedung Putih mempertimbangkan serangan terhadap sasaran Iran. Keputusan itu tidak disertai penarikan kekuatan militer atau penghentian blokade laut terhadap perdagangan minyak Iran, sebab Pentagon tetap menambah kapal perang dan ribuan personel ke Timur Tengah sementara Departemen Keuangan menjatuhkan sanksi baru terhadap jaringan perdagangan minyak Teheran. Perkembangan itu menunjukkan Washington menjalankan dua pendekatan sekaligus, yakni menawarkan jalur diplomasi sambil mempertahankan tekanan ekonomi dan militer terhadap Iran.
Poin-Poin Utama
- Trump menyatakan Amerika Serikat tidak akan melancarkan serangan militer baru terhadap Iran sebelum pemilihan umum paruh waktu pada 3 November 2026.
- Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis, 8 Oktober 2026.
- Laporan menyebutkan Gedung Putih mempertimbangkan serangan terhadap sasaran Iran menjelang pemungutan suara.
- Trump menegaskan blokade terhadap perdagangan minyak Iran akan tetap diberlakukan sepenuhnya.
- Pentagon terus menyiapkan penambahan kapal perang dan ribuan personel militer ke kawasan Timur Tengah.
- Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap jaringan perdagangan minyak Teheran.
- Trump menyebut pembicaraan dengan Republik Islam Iran berlangsung produktif melalui platform Truth Social.
- The Atlantic memberitakan Gedung Putih meminta Pentagon mengembangkan pilihan serangan terhadap Iran.
- Pejabat pemerintahan menyebutkan belum ada keputusan akhir mengenai operasi militer baru.
- Sekitar dua belas kapal Angkatan Laut AS beroperasi di perairan Timur Tengah untuk melaksanakan blokade dan misi lainnya.
- Blokade terhadap pelabuhan Iran diberlakukan kembali pada 14 Juli 2026.
- Sanksi terbaru dijatuhkan terhadap individu, jaringan perusahaan, dan 17 kapal pengangkut minyak Iran.
- Sanksi tersebut merupakan bagian dari operasi yang bernama Operation Economic Outcast.
- Pemerintah Amerika menuduh pendapatan jaringan tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan militer, pengembangan rudal, operasi siber, serta IRGC.
- Teheran menolak kebijakan sanksi Amerika Serikat dan menilai pembatasan ekonomi tersebut sebagai tekanan yang melanggar hak-hak Iran.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.